Most popular blog

Sabtu, 10 Maret 2012

bab 11


Bab 11




            “ Woi… kita nunggu siapa lagi nih?!?” tanya Chintia yang sudah tak sabar akan pergi. Memang.. sudah hampir 1 jam kami berkumpul didepan rumahku, masih ada beberapa orang lagi yang belum datang.
            “ Kita tinggal nunggu Afri, Dedek, Maulana, sama Nanda..” jawab Angel yang berdiri disamping Nuni. Maklum.. dari abad ke 60, mereka emang terus nempel, nggak akan pernah bisa dipisahkan.
            “ Lama kali si Jelek itu…” sahut Inet dari belakang.
“ udah jelek.. bertingkah lagi…” tambahnya lagi.
            Kami yang mendengarnya hanya bisa tersenyum sambil menggeleng.
            Kata-kata Inet emang ada benernya.. sudah hampir ½ jam kami menunggu kedatangan mereka berempat, apalagi salah satu dari mereka (Afri) adalah ketua kelas. Emang dasar ketua kelas yang pemalas, sebab dalam segala hal, tak ada kata semangat didalam buku Ensiklopedianya.
            Tapi.. akhirnya, saat kami akan meninggalkan mereka berempat, tiba-tiba mereka datang sambil berlari terengah-engah seperti terkena hujan.
            “ Woi… tunggu…” teriak Maulana sambil melambaikan tangan. Mereka berempat menghampiri kami dengan wajah merah.
            “ Lama kali…” teriak Inet yang sudah habis kesabaran.
            “ Iss.. sory.. sory.. tadi kami dikejar anjing..” bela Dedek sambil mengibaskan-ngibaskan lehernya dengan tangannya.
            “ Ha??! Dikejar anjing?!?” tanyaku sambil melongo.
            “ Iya… anjingnya ada empat pula itu.. ya Allah…” sahut  Nanda tiba-tiba.
            “ Sudah.. sudah.. ayo cepat.. masuk..” kata Bu Meggy sambil mempersilakan kami masuk ke dalam bis untuk pergi ke rumah Anggi.

***

            Rumah Anggi sudah ramai, semua keluarganya tampak kecewa serta sedih, tak percaya akan terjadi seperti ini. Aku menundukkan kepala, lalu menoleh pada Raka yang juga terlihat sedih dan kecewa. Aku menghampirinya.
            “ Raka.. maaf ya…” kataku pelan.
            Dia menoleh padaku sambil tersenyum. “ ha?!? Kamu ini kenapa sih?!? Dari tadi minta maaf mulu?!? Emang dasar… mentang-mentang baru pulang dari luar negeri… sombong.. hahaha..” katanya sambil terbahak.
            Aku menundukkan kepala. “ maaf… aku juga…”
            “ Lihat… hari ini cuaca sangat cerah ya?!? Emang.. kehidupan yang dibuat Allah, emang benar-benar sempurna…” kata Raka lagi sambil tersenyum.
            “ Raka.. aku..” tiba-tiba saat aku akan melanjutkan kata-kataku, Raka langsung memotong.
            “ Eh.. Inet manggil kamu tuh…” sahut Raka sambil menunjuk ke arah Inet yang sedang menungguku. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan.
            Aku menoleh pada Inet, lalu menoleh pada Raka lagi. “ ng.. ya udah deh… sampai jumpa…” kataku, lalu berlari menghampiri Inet.
            “ Kamu ngapain sih?!?” tanya Inet penasaran.
            Aku melongo. “ ha?!? Apaan sih?!? Emang nggak boleh ya ngomong bentar sama dia?!?” tambahku pelan.
            “ Ya.. boleh sih.. tapi.. aku punya satu pertanyaan…” kata Inet.
            Aku menatapnya. “ pertanyaan apa?!?” tanyaku penasaran.
            “ Kamu suka ya… sama Raka. Soalnya.. dari tadi, aku lihatin, kamu terus deketin Raka mulu…” jelas Inet panjang lebar.
            Aku melotot. “ APA?!?!” teriakku.
            Inet mendesah. “ Rie.. aku serius…” ujar Inet lagi.
            Aku menundukkan kepala. “ nggak mungkin aku suka sama dia. aku aja tak bisa menepati janji ku sama dia” kataku pelan.
            Inet menundukkan kepala, lalu menghela nafas. “ oke oke.. ayo.. semua sudah menunggui kita..” ajak Inet lalu menggandeng tanganku.
            Kami berjalan mendekati Anggi yang terbaring diselimuti kain putih. Wajahnya pucat, tapi tampak tersenyum. Aku membalas senyumannya, dan mengeluarkan air mata. Inet yang melihat mataku memerah, langsung memelukku dengan hangat. Tampaknya dia juga sedih atas meninggalnya 2 sahabat kami ini.
            Kami semua menundukkan kepala, berdoa untuk Anggi yang sedang berada disana.
            Ya Allah.. tuhan yang maha esa, hanya engkaulah.. tuhanku, maka.. kabulkanlah satu-satunya permintaanku yang sangat berharga ini.. tolong.. ampunilah dosa-dosa Anggi selama ini.. dan terimalah semua pahala yang sudah dibuatnya. Jangan kau siksa dia di neraka yang panas itu.. lindungilah dia.. ya Allah..

***

            Setelah berdoa bersama-sama, kami kembali masuk ke dalam bis, untuk pulang ke rumah masing-masing. Selama di bis, aku terdiam, tak mampu berkata apa-apa lagi, yang ada hanyalah seperti tadi, Kenangan yang tak bisa dilupakan bersama Anggi dan Jesica.
            Maaf.. Jesica, aku tak bisa melihatmu lebih lama, tapi.. aku akan terus bedoa, seperti yang tadi dikatakan bu Meggy pada kami, kami hanya bisa berdoa, supaya amal ibadahmu diterima oleh Allah S.W.T.
            Terimakasih.. sudah mau menjadi sahabatku selama ini.. begitu banyak Kenangan yang tlah kita buat.. Jesica… Anggi.. aku tak akan bisa melupakannya.. karena.. itu adalah ikatan terakhir yang kudapatkan setelah ikatan dengan keluargaku.
            Tiba-tiba, Rai yang langsung duduk disampingku membangunkanku dengan lamunanku. Dia tersenyum tulus padaku.
            “ Hai… Rie!! Udah lama kita nggak ngobrol ya?!?” katanya sambil terus tersenyum.
            Aku membalas senyumannya. “ maaf.. sejak Anggi dan Jesica pergi.. aku jadi melupakanmu.. Rai..” kataku pelan.
            “ Ah.. tidak apa-apa kok, aku mengerti perasaanmu…” katanya pelan.
            Aku tersenyum. Terimakasih… Rai…

***

            Sudah hampir seminggu, sejak aku pulang dari Jepang. Kelas XI_IPS 3 semakin sepi, tidak ada lagi yang berani melanggar aturan, semua tertib pada pelajaran. Mungkin karena kejadian yang tak terduga itu. Biasanya, Anggi dan Inet lah yang selalu dicap guru sebagai murid paling bandal dari 27 kelas yang ada disekolahku. Mereka sering datang terlambat, melawan guru dan sering terkena BP/SPO. Karena aku teman dekat mereka, alhasil.. aku juga sering terlibat kasus-kasus mereka berdua yang menurut penghuni XI_IPA 3 nggak penting (sebenarnya emang sangat gak penting).
            Lagian.. pertanyaan yang diberikan padaku aneh-aneh dan macam-macam. Bahkan kadang-kadang, ada seorang guru yang menanyakan apa yang barusan dimakan oleh Anggi dan apa yang barusan di minum oleh Inet. Setelah aku memberikan jawabannya yang menurutku sangat tepat, guru itu akan mendiskusikan dengan teman-temannya yang lain, lalu menyelidikinya. Siapa coba yang bilang pertanyaan itu penting. Emang mereka fikir Anggi dan Inet pecandu narkoba seperti obat-obatan itu apa?!?
            Tapi.. sekarang, kejadian itu tak pernah terulang kembali. Walaupun salah satu biang keroknya masih bersekolah disini, dia tak pernah berbuat seperti itu lagi. Inet termasuk salah-satunya, dia berubah total, dari 2% sampai ke 100%. Perubahan Inet membuat semua penghuni XI_IPA 3, eh.. bukan, tapi semua penghuni disekolahku menatapnya seolah tak percaya. Bahkan aku pernah dengar kalau ada adik kelas yang bilang kalau otak Inet melebihin otak kak Siska (pahlawan dari sekolahku, tingkat kecerdasannya (IQ) mampu mencapai 150, sekarang dia sedang berjuang untuk memenangkan cerdas cermat FISIKA tingkat Provinsi, (Good Luck).
            Dulu.. banyak sekali guru yang sangat tidak suka dengan sifat Anggi, mereka selalu mengata-ngatai Anggi mentel, pemalas dan genit. Sebenarnya emang benar sih, setiap menit, setiap detik, dan setiap jam, ada saja waktunya untuk bersolek. Bahkan dia pernah membawa semua alat-alat make-up nya ke sekolah untuk dipamerkan. Mulai dari perawatan rambut, sampai ke perawatan kuku kakinya. Anak-anak XI_IPA 3 sih.. nggak ada yang syirik ataupun iri, kami sudah terbiasa dengan sifat Anggi.
            Tapi sekarang semenjak yang malah anehnya, banyak guru sekolahku yang mulai berdatangan untuk pendaftaran ceramah di kelas XI_IPS 3. Dari setiap ceramah yang kami amati, hasilnya sama, yang diceramahi mereka adalah masalah Anggi.. Anggi.. dan Anggi.. mereka bercerita tentang pertama kali mereka melihat Anggi, sampai mereka muak melihat Anggi.
            Penguni-penghuni XI_IPA 3 menjadi malas dan mengantuk saat mendengarkan ceramah yang disampaikan para-para pengatur aturan itu. Ada saja yang mereka ceritakan untuk kami, tapi dari semua ceramah yang kuamati, rata-rata banyak guru yang kecewa atas meninggalnya Anggi, mungkin mereka rindu dengan sifat Anggi yang melampaui batas sekolah luar biasa.
            Padahal, sudah dicap murid paling bandal sejak abad ke 1000, tetap saja banyak cowok yang mau nempel terus dengannya. Mulai dari kakak kelas tahun semalam, sampai adik kelas tahun ini. Mereka tidak mempunyai kelelahan untuk menggodai Anggi. Anggi memang cantik sih, manis. Dia selalu ramah bila berbicara pada lelaki, dan selalu memakai senyumannya yang dikatakan melampai senyuman Miley cyrus, bahkan dia mengakui, setelah Justin Bieber melihatnya, dia bakal menikah dan hidup bahagia dengannya.
            Tapi.. dari sekian laki-laki terpopuler di sekolahku, Anggi malah memilih Raka, cowok kalem, dan jarang bergaul dengan laki-laki lain. Raka memang lumayan populer, tapi populer dengan kepintarannya, kepintarannya bisa melampaui kejeniusan kak Siska. Bukan cuma kak Siska yang manjadi kesayangan kepala sekolah dan semua guru-guru, Raka juga termasuk salah satunya, kata kepala sekolah, setelah kak Siska nanti tamat, pak Kepsek mau kalau Raka akan mengantikkan posisi kak Siska, dan tentu saja Raka menerimanya dengan senang hati, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatannya yang sangat berharga ini.
            Tapi.. semejak seluruh warga-warga disekolahku tau kalau Anggi dan Raka sedang menjalani hubungan, wajah pak kepala Sekolah langsung memerah, dia tidak menyangka bahwa anak murid kesayangannya yang membuatnya menjadi kepala sekolah SMP terbaik se-kota medan berpacaran dengan musuh berbuyutannya sekaligus murid paling tidak disukainya. Padahal waktu itu pak kepsek akan megeluarkan Anggi, tapi semenjak tau Raka berpacaran dengan Anggi, pak Kepsek terpaksa mengurung sementara niatnya sampai mereka putus.
            Sampai hampir 1 tahun, hubungan Raka dan Anggi tetap berjalan lancar, meskipun Anggi sedikit genit kepada setiap cowok yang ditemuinya, Raka tetap tak mau ambil masalah, baginya itu memang sifat Anggi yang sebenarnya dan dia makin bertambah suka dengan Anggi kalau dia seperti itu terus. Aku yang mendengarnya berkata begitu, hanya bisa melongo tak percaya.
            Karena pak kepsek sudah kehilangan kesabaran menunggu hubungan mereka putus, akhirnya pak kepsek memanggil Raka ke ruangan peribadinya. Pak kepsek mengatakan pada Raka, kalau Raka wajib memutusi Anggi untuk perlombaan cerdas cermat tingkat kecamatan agar konsentasi belajarnya tidak terganggu, pak kepsek juga menuduh Anggi kalau Anggi adalah anak bodoh dan aneh yang tidak tau sopan santun, dan tak patut dicontoh oleh Raka. Raka yang mendengar perkataan pak kepsek yang mengejek orang yang dicintainya itu langsung berkuping panas. Bahkan dia membentak pak kepsek agar tidak usah mengaturnya.
            Pak.. selama saya berpacaran dengan Anggi, konsentrasi saya baik-baik saja kok.. lagipula kenapa bapak mengata-ngatai Anggi seperti itu?!? Anggi bukan orang yang seperti bapak kira. Saya menghormati bapak sebagai kepala sekolah saya, saya selalu mematuhi apa yang bapak perintahkan, tetapi.. apakah ini balasan dari bapak untuk saya?!? Bapak menyuruh saya untuk memutusi Anggi?!? Pacar saya sendiri?!? Coba bapak bayangkan jika istri bapak dilecehkan dengan orang yang bapak hormati?!? Pasti bapak merasa dikhianati dan disakitikan?!? Sama seperti saya pak.. saya benci.. orang yang membohongi dirinya sendiri. Saya tau pak, banyak guru yang tidak menyukai Anggi, saya akui.. dia memang pemalas dan tidak suka belajar. Tapi pak.. pada dasarnya, Anggi bukan orang seperti itu, dia tidak bodoh, dia pintar dan cepat, hanya saja dia tidak mengakuinya. Kalau bapak membenci saya hanya karena saya menjalin hubungan dengan Anggi, katakan saja.. tidak usah membuat pelecehan yang konyol seperti itu.. tanpa Anggi saya tak bisa konsentrasi dalam belajar pak.. dia selalu memperhatikan saya, melindungi saya.. karena itulah tidak mungkin saya bisa memutuskannya hanya untuk program cerdas cermat saja, maaf.. kalau komentar saya kepanjangan pak… karena kata-kata ini sudah saya ucapkan bagi orang yang mengatur saya untuk memutusi Anggi. Permisi pak.” Kata Raka panjang lebar.
            Perkataan Raka tadi membuat pak kepsek terdiam lama. Dia tidak tau mau bicara apa lagi, semenjak kejadian itu, tak ada lagi guru-guru yang mengata-ngatai Anggi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar