Most popular blog

Minggu, 11 Maret 2012

bab 12


Bab 12



            2 minggu tlah berlalu, tapi suasana XI_IPA 3 tetap seperti sekarang, tidak ada yang berani bicara. Termasuk Raka, selama Anggi meninggal, dia jarang sekali mengerjakan PR, jarang tidak masuk sekolah, dan sering melamun. Aku mencoba mendekatinya untuk menyegarkan perasaannya, padahal perasaanku sama dengannya. Tapi.. semakin lama aku mendekatinya, ntah kenapa dia semakin jauh dariku, padahal aku punya cerita menarik untuknya. Tapi.. sama saja, dia tetap menjauh dariku dan akhirnya aku mengalah.
            Saat aku berjalan menuju gerbang sekolah untuk pulang, tiba-tiba 2 cowok yang tidak lain adalah Taiga dan Kouki memanggilku, mereka melambaikan tangan ke arahku yang ku balas dengan melotot sambil tersenyum. Aku berlari menghampiri mereka.
            “ Kalian ngapain di sini?!?” tanyaku sok penasaran.
            “ Ya.. nungguin kamu lah..” kata Taiga dengan PD.
            Aku melongo, “ ha?!? PD bener?!?” tambahku sambil tersenyum. Lalu kami terdiam lama sampai aku berkata.
“ udah ah.. langsung aja konsekuensinya..” tambahku.
            “ Ng.. ehem.. ehem.. nanti sore kami mau pulang ke Jepang, keadaan disana juga udah mulai membaik..” kata Kouki.
            Aku mengangkat alis. “ ha?!? Kok cepat banget?!” tanyaku.
            “ Yaiyalah.. kami juga nggak bisa lama-lama disini..” jelas Taiga.
            Tiba-tiba saat aku mau berkata lagi, Cuci dan Cici langsung menyahut.
            “ Riery.. udah punya cowok baru ni yee… cuit.. cuit..” sahut Cuci sambil bersiul.
            “ Udah ganti pacar ya?!? Nanti Rai marah lho…” sahut si Cici.
            Aku mengangkat alis. “ ha?!? Apaan sih?!? Nggak kok.. mereka ini cuma temanku sewaktu di Jepang.. jangan mikir yang nggak-nggak ya…” jelasku sambil mengancam mereka berdua. Mereka hanya nyengir lalu berlari menjauh dariku. Aku menghela nafas. Akhirnya pengganggu itu pergi juga..hah..…
            “ Eh.. kami duluan ya.. pesawatnya udah mau berangkat.. dah…” kata Taiga sambil melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobilnya dan melaju cepat menuju bandara Polonia.
            Aku menghela nafas, lalu duduk diatas batu besar tepat disamping gerbang sekolahku. Tadi Rai memintaku untuk pulang bareng karena ada yang ingin ditanyakannya, tapi.. sudah hampir jam 3 dia belum keluar-keluar juga. Sampai akhirnya aku kehilangan kesabaran dan masuk ke dalam sekolah untuk mencarinya lagi, tapi tiba-tiba saat aku masuk, terlihat Rai berjalan menuju ke arahku dengan tatapan gelisah. Dia menghampiriku.
            “ Kita makan sebentar ya..” kata Rai dengan tatapan kosong lalu berjalan menuju warung soto tepat disebelah sekolahku.
            Aku duduk didepan Rai yang sedang mengotak-atik ponselnya. Aku menatapnya, ada apa dengan dia?!? Kenapa sikapnya menjadi dingin seperti ini?!?
            Akhirnya aku memberanikan bertanya padanya. “ Rai.. kamu kenapa sih?!? Kamu marah?!?” tanyaku penasaran. Aku salah apa sama dia coba?!?
            “ Makan dulu..” jawabnya singkat lalu memberikanku sebotol teh sosro.
            Aku menerimanya walaupun dengan ragu-ragu. “ Makasih.. tapi makanannya nggak usah, aku lagi nggak laper..” jawabku sambil tersenyum kecil.
            Rai terdiam, dari tadi dia sama sekali tak menatapku tidak seperti waktu pertama kali aku berpacaran dengannya. Sambil menemani Rai yang sedang makan dengan lahap, aku menoleh ke sana kemari, sampai aku melihat Raka duduk di atas motornya sambil mengotak-atik ponselnya.
            Aku menoleh pada Rai. “ Rai.. aku mau ngomong bentar sama Raka ya.. kamu makan aja dulu.. nanti aku datang ke sini lagi..” kataku. Tanpa menunggu jawaban dari Rai, aku langsung berlari ke arah Raka.
            Raka yang melihatku datang menghampirinya langsung menyimpan ponselnya di kantong bajunya.
            Aku tersenyum. “ kok belum pulang, ka?!?”
            “ Lha kamu sendiri?!?” tanyanya balik.
            Aku terbahak. “ aku lagi temani Rai makan dulu!!” jawabku singkat. Aku mengangkat alis. “ ng.. besok jalan-jalan yuk?!?” ajakku.
            Raka memutar bola matanya. “ aduh.. nggak bisa, besok aku ada urusan keluarga.” Jawabnya sambil menepuk-nepuk dahinya.
            Aku tersenyum. “ oh… ya udah, nggak apa-apa kok..” kataku.
            Raka membalas senyumanku. “ eh.. udah dulu ya, Rie.. aku buru-buru ni.. dah..” kata Raka polos lalu menyalakan mesin sepeda motornya dari pergi menjauh dari hadapanku. Aku menghela nafas panjang, lalu kembali ke menemani Rai makan siang. Saat aku duduk di depan Rai, Rai menatapku dengan dingin.
            “ Aku sedih..” katanya singkat tapi jelas.
            Aku megangkat alis. “ ha?!? Kok sedih?!? Kamu sakit, ya Rai?!?” tanyaku gelisah.
            “ Kamu senang kan?!?” kata Rai.
            Aku memutar bola mata. “ siapa lagi yang senang, kalau pacarnya sakit,” celetukku keras. Kok makin lama, sikap Rai jadi dingin seperti ini sih… kataku dalam hati.
            “ Selama Anggi dan Jesica meninggal, aku perhatikan, kamu jadi sangat perhatian sama Raka.. dan jadi sangat melupakanku.. padahal aku butuh dukunganmu..” jelas Rai pelan.
            Aku menundukkan kepala. “ aku bukannya  melupakanmu Rai, cuma.. aku belum bisa memaafkan kesalahanku atas apa yang sudah kujanjikan untuk Raka..”
            “ Tapi dia sudah memaafkanmu kan?!?” tanya Rai keras.
            Aku menundukkan kepala, lalu menoleh pada Rai. “ masalah ini.. lain kali saja kita bicarakan.. hari ini aku capek.. lagipula.. sebentar lagi ujian semester 2.. aku nggak punya banyak waktu untuk mempermasalahkan urusan yang nggak penting seperti ini.” jelasku panjang lebar, lalu keluar dari warung soto ini.
            Saat aku hendak berjalan dari pintu keluar aku menoleh lagi paad Rai. “ lusa nanti.. ada pertandingan basket melawan antar kelas.. usaha kan kelas kita menang Rai.. jangan lupa ya..” tambahku lalu keluar dari pintu.

***

            Aku masuk ke dalam kelas, kulihat teman-temanku yang biasanya pagi-pagi sibuk mengerjakan PR, sekarang terlihat tenang dan santai. Ada yang memainkan gitar, mendengarkan musik dari IPOD, ada yang sedang ketawa-ketawa bahkan ada yang bawa laptopnya ke sekolah. Ada yang aneh sama mereka semua… kataku dalam hati.
            Aku meletakkan tasku di bangku ku tepat disamping Inet yang sedang bermain Game di ponselnya.
            Aku menoleh padanya. “ mereka semua kenapa sih?!? Tumben banget mereka santai-santai begini?!?” tanyaku sok penasaran. Sebenarnya aku juga agak senang sih dengan perubahan mereka.
            “ Hari ini nggak belajar.. karena besok ada perlombaan basket antara kelas XI_IPS sama kelas XI_IPA, “ jelas Inet tanpa menoleh sedikitpun denganku.
            Aku memutar bola mata. “ kalau itu sih aku tau.. yang aku pengen tau sih.. kenapa sampe nggak belajar 1 harian gini sih?!? Nanti kita ketinggalan pelajaran dong…” pintaku manja.
            Inet menoleh padaku. “ biarin ah.. aku juga lebih suka begini… dari pada belajar.. bikin pusing, stres… yang ada.. aku nggak pintar-pintar deh…” Inet bereaksi.
            Aku tersenyum kecil. “ hmm.. iya deh.. iya…” jawabku mengalah. “ jadi yang mewakili kelas XI_IPS siapa dong?!?” tanyaku lagi.
            “ Ya pasti kelas kita lha.. katanya sih, karena ada Rai.. makanya kelas kita dipilih..” jelas Inet lagi.
            Aku mengangguk-angguk, lalu menoleh lagi pada Inet. “ kamu nggak ikut net?!?”
            “ Hah.. males..” jawab Inet polos.
            Aku merengut. “ ih.. Inet.. kok gitu sih?!? Kamu kan jago main basket?!? Apalagi kalau aku liat kamu main basket itu.. wajahmu bercahaya banget lho….” kataku bangga sambil tersenyum.
            Inet menoleh padaku. “ lebai deh..” jawabnya singkat.
            Tiba-tiba Tita dan Arita datang menghampiri kami berdua sambil membawa beberapa kertas Absen.
            “ Eh.. kami mau minta sesuatu…” kata mereka berdua serempak.
            Inet menoleh pada Arita dan Tita. “ heh.. dari kemarin.. kalian itu minta duit mulu sama kami..” kata Inet keras.
            “ Eh.. siapa yang minta duit?!? Kami mau minta persetujuan untuk kamu net,” jeda sejenak. “ besokkan pertandingan kelas XI_IPS dengan kelas XI_IPA, jadi yang mewakili, kelas kita nih.. wajib bangga dong..” Tita tambah yang semakin panjang lebar.
            “ Lanjut aja…” sahutku polos.
            “ Gini.. kalau nanti misalnya kita menang.. ya kan.. kita nggak bisa diam-diam aja tanpa merayakannya.. jadi kami berdua udah ngusuli untuk buat pesta meriah tepat pada malam minggu..” jelas Arita panjang lebar.
            Aku dan Inet mengangguk-angguk. “ ya.. ya.. kami setuju…”
            “ Tapi.. kami bingung mau bikin pestanya dimana… dari kelas kita nggak ada rumah yang bisa menampung 51 murid dikelas ini… ditambah lagi beberapa guru dan warga kelas lain yang kemungkinan juga datang..” lanjut Tita.
            Aku memutar bola mata. “ disekolah aja kenapa sih..” usulku.
            “ Nggak enak dong, rie.. masa di sekolah.. bosen…” kata Arita.
            Kami terdiam lama, tapi akhirnya Inet mengusulkan.
“ gimana kalau komplek rumahku aja…” kata Inet keras.
            Aku tersenyum. “ boleh juga tuh.. kebetulan komplek Inet dan komplekku sama.. terus.. lapangannya luas lagi.. banyak pepohonan.. pokoknya keren deh.. tapi.. disana emang nggak banyak lampu-lampu dan cahaya sih.. tapi kan bisa kita hias pake lilin berwarna sama beberapa kembang api…” pintaku semangat.
            “ Oke… Oke…” jawab Tita dan Arita serempak.
            Inet menghela nafas. “ oke deh.. sudah selesai kan?!?”
            “ Tunggu dulu.. ng.. anu ada satu hal penting lagi nih..” kata Arita.
            Aku menoleh pada Arita. Ada apa sih?!? Kataku dalam hati.
            Inet menunduk, sepertinya dia sudah tau apa pertanyaan Arita.
            “ Hm.. kita butuh ketua” kata Tita.
            “ Lho.. bukannya Rai?!?” tanya Inet.
            “ Rai juga ikut sih.. tapi dia sudah nggak sanggup untuk menjadi ketua..” ujar Arita keras.
            Aku menundukkan kepala, hah? Rai? tumben dia nggak mau menjadi ketua.
            “ Kami semua sudah setuju kalau kamu akan menjadi ketua net.. ini perintah.. apalagi kamu jago main basket.. kami semua orang kagum dengan gaya dan penampilan kamu setiap kamu bermain basket” kata Tita tegas.
            “ Hah.. dengar ya.. aku sama sekali tidak berminat..” kata Inet polos.
            “ Ini sudah diputuskan...” kata Arita yang sudah tidak kesabaran.
            “ Hm.. oke.. oke deh..” seru Inet mengalah.
            Tita dan Arita langsun tersenyum, lalu berkata.
“ Makasih ya Inet sayang…” jawab mereka hampir berbarengan, lalu pergi meninggalkan kami.
            Aku tersenyum, sedangkan Inet hanya geleng-geleng kepala.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar